Yogyakarta — Kiprah insinyur muda Indonesia terus menunjukkan dinamika yang menjanjikan, khususnya dalam upaya menghubungkan riset akademik dengan kebutuhan nyata masyarakat. Salah satu figur yang menonjol dalam ekosistem tersebut adalah Fatah Abdul Jalil, alumni Teknik Fisika angkatan 2015, yang dikenal memiliki idealisme kuat dalam pengembangan teknologi tepat guna sekaligus hilirisasi teknologi berkelanjutan. Melalui keterlibatannya di berbagai proyek riset hingga berkontribusi mendirikan grup riset “Biomass and Waste Technology” Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada, Fatah menunjukkan bahwa penelitian tidak berhenti di dokumen desain dan laboratorium, melainkan berlanjut pada implementasi nyata yang memberi dampak sosial, ekonomi, dan lingkungan.
Latar Belakang dan Nilai Dasar Pendidikan
Fatah Abdul Jalil berasal dari Kudus, Jawa Tengah, dari lingkungan keluarga yang religius dan kental dengan tradisi Islam. Meski demikian, ia memilih jalur pendidikan umum sejak sekolah dasar hingga perguruan tinggi—sebuah pilihan yang tidak dimaksudkan untuk meninggalkan nilai-nilai keislaman, melainkan untuk mengaktualisasikannya dalam praktik keilmuan yang nyata. Bagi Fatah, penguasaan sains dan teknologi merupakan bagian dari ikhtiar umat untuk berkontribusi secara konkret dalam kemajuan peradaban. Fisika, khususnya yang berkaitan dengan teknologi energi dan proses, dipilih sebagai medium untuk menjembatani nilai, ilmu, dan manfaat.
Perjalanan Akademik di Universitas Gadjah Mada
Fatah menempuh pendidikan sarjana di Teknik Fisika,DTNTF, FT, UGM, masuk pada tahun 2015 dan menyelesaikan studinya pada 2019. Di penghujung masa perkuliahan, ia mengambil topik riset yang menantang dan aplikatif, yakni optimasi produksi biodiesel dengan metode in-situ esterifikasi menggunakan bahan non pangan, sebuah tema strategis dalam konteks energi terbarukan.
Penelitian tersebut dibimbing oleh Ir. Nunung Prabaningrum, M.T., Ph.D., IPU., ilmuwan sekaligus insinyur yang dikenal teliti dan berpengalaman dalam bidang teknologi proses kimia nuklir. Di bawah bimbingan tersebut, Fatah menjalani rangkaian eksperimen yang kompleks, melibatkan prosedur laboratorium ketat, peralatan sensitif, serta disiplin keselamatan tinggi.
Dari kesaksian pembimbingnya, Fatah dikenal sebagai peneliti yang berdedikasi, tekun, memiliki rasa ingin tahu tinggi, dan mampu belajar secara mandiri melalui eksperimen berulang. Seluruh proses riset dilakukan di Laboratorium Teknologi Proses Kimia Nuklir (TPKN) yang memiliki keterbatasan waktu pakai karena digunakan bersama oleh berbagai kelompok riset dan kegiatan pendidikan.
Kompetensi Kunci: Riset, Eksperimen, dan Manajemen Proyek

Selama masa studinya, Fatah membangun setidaknya tiga kompetensi utama. Pertama, penguasaan metodologi penelitian, mulai dari perumusan masalah hingga analisis data. Kedua, keahlian eksperimental, khususnya dalam mengoperasikan peralatan laboratorium dan menjalankan prosedur kompleks secara konsisten. Ketiga, dasar-dasar manajemen proyek, sebuah kemampuan penting dalam riset eksperimental yang menuntut pengelolaan waktu, sumber daya, dan koordinasi antar-pemangku kepentingan. Kemampuan ini menjadi krusial mengingat laboratorium tidak hanya digunakan untuk penelitian, tetapi juga untuk praktikum dan kegiatan akademik lainnya. Fatah belajar bagaimana berkomunikasi secara efektif, bernegosiasi jadwal, dan menjaga kolaborasi lintas kelompok riset—sebuah bekal penting untuk karier riset jangka panjang.
Humanisme dalam Kepemimpinan Riset
Dalam keseharian bekerja, Fatah dikenal memiliki gaya kepemimpinan yang humanis. Rekan-rekannya menggambarkan suasana kerja yang hangat, kekeluargaan, namun tetap profesional. Ia mampu memadukan sikap humoris dengan ketegasan dalam mengatur tim, sehingga produktivitas tetap terjaga tanpa menghilangkan kenyamanan bekerja. Pendekatan ini mencerminkan pemahaman bahwa manajemen proyek riset tidak semata-mata soal target dan anggaran, tetapi juga tentang kepemimpinan, motivasi, dan kepercayaan. Seorang manajer riset, dalam pandangan Fatah, harus sekaligus menjadi pemimpin dan penggerak semangat tim.
Kiprah Riset dan Pendanaan

Sejak lulus pada 2019, Fatah aktif terlibat dalam berbagai skema proyek riset hingga sekarang. Ia berpengalaman dalam penyusunan proposal dan pengelolaan riset pendanaan nasional maupun hibah riset internal universitas serta fakultas. Pendanaan yang dikelola tidak hanya bersumber dari pemerintah, tetapi juga dari institusi pendidikan tinggi, hingga kerja riset dengan BUMN/swasta. Selain itu, upaya untuk menembus pendanaan internasional terus dilakukan, menandai kesiapan riset yang telah teruji secara nasional dan menuju level global. Dalam aktivitas risetnya, Fatah juga berkolaborasi dengan berbagai akademisi dan peneliti lintas disiplin, mendukung kegiatan penelitian yang dipimpin oleh profesor dan peneliti senior di bidang nuklir, fisika, dan rekayasa teknologi.
Hilirisasi Riset dan Dunia Industri

Salah satu komitmen utama Fatah adalah memastikan bahwa hasil riset tidak berhenti sebagai laporan atau publikasi, tetapi dapat diimplementasikan secara nyata. Bidang yang dikembangkan mencakup pemanfaatan biomassa, pengolahan limbah, serta teknologi tepat guna yang dapat diskalakan dari laboratorium ke industri. Hilirisasi, dalam pandangannya, bukan semata proses komersialisasi, tetapi jalan untuk menjawab persoalan riil masyarakat—mulai dari energi, lingkungan, hingga keberlanjutan.
Visi Keilmuan dan Pesan bagi Generasi Muda
Fatah aktif dalam grup riset Biomass and Waste Technology, yang berfokus pada konversi biomassa dan limbah menjadi energi dan produk bernilai guna. Ia meyakini bahwa peneliti memiliki tanggung jawab sosial untuk memahami kondisi masyarakat dan menghadirkan solusi yang aplikatif.
Pesannya kepada mahasiswa dan alumni sederhana namun mendalam: berkreasilah sesuai minat dan hati. Bekerja tanpa kecintaan pada bidang yang digeluti, menurutnya, hanya akan berujung kelelahan. Keseimbangan antara idealisme ilmiah dan realitas implementasi menjadi kunci keberlanjutan karier riset.
Penutup
Perjalanan Fatah Abdul Jalil menunjukkan bahwa peneliti / insinyur masa kini dituntut untuk adaptif—mampu bergerak dari laboratorium ke masyarakat, dari proposal ke industri, serta dari ide ke implementasi. Dengan fondasi akademik yang kuat, kepemimpinan humanis, dan visi hilirisasi yang jelas, Fatah menjadi representasi generasi peneliti / insinyur yang menjembatani ilmu pengetahuan dan kebermanfaatan nyata bagi masyarakat luas.


