PT PLN Indonesia Power (PLN IP) bersama Departemen Teknik Nuklir dan Teknik Fisika Universitas Gadjah Mada (DTNTF UGM) sukses menyelenggarakan Pelatihan Rencana Pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) di Indonesia. Pelatihan ini dilaksanakan selama enam hari kerja, pada 9–17 Desember 2025, di Hotel Grand Mercure, Gatot Subroto, Jakarta Selatan. Pelatihan ini melibatkan dosen DTNTF UGM dan praktisi dari lembaga terkait.
Kegiatan pelatihan ini diselenggarakan sebagai bagian dari upaya mendukung agenda nasional transisi energi bersih dan pencapaian target Net Zero Emission (NZE) tahun 2060. Komitmen pengembangan PLTN telah tertuang dalam Keputusan Menteri ESDM Nomor 85.K/TL.01/MEM.L/2025, serta direncanakan dalam RUKN dan RUPTL dengan mengacu pada pedoman International Atomic Energy Agency (IAEA).
Sebagai bagian dari PLN Group, PLN Indonesia Power memiliki peran strategis dalam rencana pembangunan PLTN. Oleh karena itu, peningkatan kompetensi teknis dan pemahaman komprehensif mengenai ketenaganukliran menjadi aspek penting dalam mempersiapkan SDM yang andal.
Pembekalan Komprehensif Selama Enam Hari
Materi pelatihan disampaikan oleh para dosen DTNTF UGM, antara lain Dr. Ing. Ir. Sihana, IPU; Dr. Ir. Alexander, ST., MSc., IPU; Prof. Dr. Ir. Andang Widi Harto, MT, IPU; Yanuar Adi Setiawan, PhD; Fitrotun Aliyah, PhD; Dr. Ir. Widya Rosita, ST., MT, IPU; serta Dr. Suparman. Penyusunan dan pengemasan materi pembelajaran turut didukung oleh tim asisten, yaitu Ir. M. Yayan Adi Putra, S.T., M.Eng., IPM dan Ursula Krisna Utaminingtyas S.A., S.T.

Pada hari pertama, peserta diperkenalkan dengan dasar-dasar PLTN, meliputi sejarah dan perkembangan teknologi nuklir, pengantar energi nuklir, kebutuhan energi Indonesia, prinsip kerja PLTN, siklus bahan bakar, serta manajemen bahan bakar reaktor. Materi ini memberikan fondasi awal bagi peserta dalam memahami peran energi nuklir dalam sistem ketenagalistrikan nasional.
Hari kedua membahas berbagai jenis dan klasifikasi PLTN, termasuk reaktor Light Water Reactor (LWR) dan Non-LWR seperti FBR, PHWR, dan GCR. Selain itu, peserta memperoleh pemahaman mengenai perbedaan PLTN darat dan Floating Nuclear Power Plant (FNPP), perkembangan reaktor Generasi III+ dan IV, serta pengenalan Small Modular Reactor (SMR) dan microreactor.
Pada hari ketiga, fokus pelatihan beralih ke aspek operasi dan pemeliharaan PLTN, meliputi strategi pemeliharaan, in-service inspection, aging management, sistem instrumentasi dan kendali reaktor, serta prosedur start-up, operasi normal, dan shutdown. Materi dilengkapi dengan simulasi operasi reaktor menggunakan perangkat lunak untuk memberikan gambaran kondisi operasi yang mendekati situasi nyata.
Hari keempat menekankan konsep 3S (Safety, Security, and Safeguards) sebagai pilar utama pengembangan PLTN. Peserta dibekali pemahaman mengenai filosofi keselamatan dan analisis kecelakaan, sistem proteksi fisik, komitmen nonproliferasi, serta regulasi, perizinan, dan tahapan pembangunan PLTN di Indonesia dari tahap persiapan hingga dekomisioning.
Pada hari kelima, materi difokuskan pada proteksi radiasi dan siklus bahan bakar nuklir, termasuk jenis dan dampak radiasi, penerapan prinsip ALARA, serta pengelolaan limbah radioaktif.
Hari keenam, peserta memperoleh kesempatan kunjungan lapangan ke fasilitas nuklir di Serpong, meliputi fasilitas reaktor, pengelolaan limbah, bahan bakar nuklir, dan proteksi fisik, dengan pendampingan instruktur serta penerapan standar keselamatan yang ketat. Peserta juga mendapatkan pembekalan mengenai keekonomian PLTN dan kesiapan pembangunan PLTN di Indonesia, mencakup aspek biaya, tanggung jawab operator, pengalaman pembangunan PLTN di negara lain, serta tantangan teknis dan sosial yang perlu dimitigasi.

Evaluasi
Sebagai bagian dari evaluasi, peserta mengisi kuisioner umpan balik pada hari terakhir pelatihan untuk menilai kualitas materi, metode penyampaian, serta pre-test dan post-test. Hasil evaluasi menunjukkan respons positif terhadap pelaksanaan pelatihan secara keseluruhan.
Melalui pelatihan ini, DTNTF UGM berharap dapat terus berkontribusi dalam penguatan kapasitas SDM nasional di bidang ketenaganukliran, sekaligus mendukung kesiapan Indonesia dalam mengembangkan PLTN secara aman, selamat, dan berkelanjutan.



