Ilmu Pengetahuan sebagai Instrumen Perlindungan Kehidupan dan Keberlanjutan Sosial
[...]
Ilmu Pengetahuan sebagai Instrumen Perlindungan Kehidupan dan Keberlanjutan Sosial
[...] Selengkapnya
Ilmu Pengetahuan sebagai Instrumen Perlindungan Kemanusiaan dan Keamanan Publik
[...] Selengkapnya
Ilmu Pengetahuan sebagai Fondasi Transisi Keberlanjutan Layanan Kesehatan
Rumah sakit adalah tempat [...] Selengkapnya
Teknologi sebagai Instrumen Perlindungan, Efisiensi, dan Martabat Kerja Petani.
Pertanian tidak hanya [...] Selengkapnya
Ketangguhan ekonomi masyarakat menjadi kunci penting dalam pembangunan yang berkelanjutan dan inklusif. [...] Selengkapnya
Salah satu capaian membanggakan diraih oleh Mohamad Sukron Fajrin Husein, wisudawan tercepat dengan masa studi yang luar biasa singkat, yakni 1 tahun 4 bulan 7 hari. Pencapaian ini mencerminkan disiplin, konsistensi, serta komitmen tinggi terhadap kegiatan akademik dan penelitian.
Di balik prestasi tersebut, Sukron membawa perspektif yang membumi. Ia menyampaikan:
“Everyone wants to save the world but no one wants to help mom do the dishes. Tetaplah semangat berkontribusi baik dengan pekerjaan ataupun penelitian meski kadang kita merasa yang kita kerjakan bukan hal besar.”
Dalam tesisnya yang berjudul “Metode Identifikasi Uranium untuk Forensik Nuklir dan Safeguard Bahan Nuklir”, Sukron mengembangkan pendekatan ilmiah untuk mengidentifikasi karakteristik uranium sebagai bagian dari upaya forensik nuklir. Penelitian ini memiliki peran penting dalam pelacakan asal-usul bahan nuklir, khususnya dalam konteks pengawasan dan pencegahan penyalahgunaan.
Pendekatan tersebut memungkinkan identifikasi “sidik jari” material nuklir, sehingga dapat ditelusuri asal, proses produksi, hingga jalur distribusinya. Dalam skala global, kemampuan ini menjadi elemen penting dalam mendukung rezim non-proliferasi dan meningkatkan transparansi pemanfaatan teknologi nuklir.
Di sisi lain, semangat belajar sepanjang hayat ditunjukkan oleh Djoko Slamet Pudjorahardjo, wisudawan tersenior dalam Program Magister Teknik Fisika.
Lahir pada 26 September
[…] Selengkapnya
Pelatihan ini diikuti oleh tenaga kependidikan, laboran, mahasiswa, serta staf yang beraktivitas di lingkungan Departemen Teknik Nuklir dan Teknik Fisika. Materi pelatihan disampaikan oleh instruktur dari internal departemen. Kegiatan dimulai dengan sesi pembukaan dan dilanjutkan dengan pretest untuk mengukur tingkat pemahaman awal peserta mengenai penanganan kebakaran dan penggunaan APAR.
Dalam sesi materi, peserta diberikan pemahaman mengenai dasar-dasar kebakaran, termasuk penyebab umum kebakaran di lingkungan kampus. Beberapa faktor yang dapat memicu kebakaran antara lain korsleting listrik akibat instalasi yang tidak sesuai standar, penyimpanan bahan kimia yang tidak aman di laboratorium, penggunaan peralatan listrik berdaya tinggi, serta kelalaian manusia seperti penggunaan alat pemanas tanpa pengawasan. Selain itu, peserta juga diperkenalkan dengan klasifikasi kebakaran, yaitu kelas A, B, C, D, dan K, yang masing-masing memiliki karakteristik bahan bakar yang berbeda.
Materi berikutnya membahas berbagai jenis APAR yang umum digunakan, seperti APAR jenis air (water), serbuk kimia kering (dry chemical powder), karbon dioksida (CO₂), busa (foam/AFFF), serta gas halon. Peserta dijelaskan mengenai fungsi dan penggunaan masing-masing jenis APAR agar dapat memilih alat pemadam yang tepat sesuai dengan jenis kebakaran yang terjadi.
Selain penyampaian teori, pelatihan ini juga menekankan prosedur penggunaan APAR yang benar. Peserta diajarkan langkah-langkah dasar dalam menggunakan APAR, yaitu menarik pin pengaman, mengarahkan selang ke sumber api, menekan tuas pemicu, serta menggerakkan semprotan secara perlahan hingga api dapat dipadamkan. Pengetahuan ini sangat penting agar tindakan pemadaman dapat dilakukan secara cepat, tepat, dan aman.
Kegiatan pelatihan ditutup dengan sesi post-test untuk mengevaluasi pemahaman peserta setelah mengikuti pelatihan. Melalui kegiatan ini diharapkan seluruh peserta memiliki pengetahuan dan keterampilan dasar dalam menangani kebakaran sejak tahap awal, sehingga dapat meminimalkan potensi kerugian materi maupun risiko keselamatan.
Pelatihan APAR ini menjadi salah satu bentuk komitmen Departemen Teknik Nuklir dan Teknik Fisika Fakultas Teknik UGM dalam membangun budaya keselamatan kerja di lingkungan akademik. Dengan meningkatnya kesadaran dan kesiapan seluruh civitas akademika, diharapkan lingkungan kampus dapat menjadi tempat belajar dan bekerja yang lebih aman dan tanggap terhadap keadaan darurat.
Maya dan Anggita ditempatkan di Divisi Kontrol dan Instrumentasi PLTGU Blok III. Pada divisi ini, keduanya berkesempatan untuk terlibat dalam kegiatan preventive maintenance dan corrective maintenance pada peralatan kontrol serta instrumentasi.
Selain itu, mereka juga berkesempatan mengikuti analisis studi kasus pada salah satu sistem yang ada di PLTGU. Maya mendalami analisis sistem perpipaan dan proses kalibrasi control valve di unit injeksi klorin, sedangkan Anggita fokus pada evaluasi sensor pH beserta proses kalibrasi pada unit desal demin plant. Pengalaman tersebut memberikan pemahaman mengenai pentingnya akurasi pengukuran dan kestabilan sistem kendali dalam menjaga keandalan operasi pembangkit.
Sementara itu, Sara dan Dhaviola melaksanakan kerja praktik di Divisi Kelistrikan Blok I. Mereka mempelajari sistem distribusi daya, panel kelistrikan, serta sistem proteksi yang mendukung keberlangsungan operasional pembangkit. Keduanya juga memperoleh wawasan mengenai implementasi Pembangkit Listrik Tenaga Surya di lingkungan dalam sistem pembangkit listrik. Menurut Maya, teori yang telah dipelajari dalam mata kuliah Teknik Fisika seperti Rangkaian Listrik, Elektronika, Pengukuran dan Monitoring, Teknik Kontrol, Termodinamika, serta Konversi Energi menjadi fondasi penting dalam memahami siklus kerja dan peralatan instrumentasi pada sistem pembangkit PLTGU.
“Materi yang sebelumnya kami pelajari di kelas ternyata sangat relevan ketika diterapkan di lapangan. Pemahaman mengenai sistem kelistrikan, sistem closed loop dan kontrol, hingga siklus konversi energi membantu kami melihat bagaimana seluruh komponen di pembangkit saling terhubung dalam satu sistem yang utuh,” jelasnya.
Selain memperoleh pengalaman teknis, mahasiswa juga merasakan secara langsung bagaimana budaya Keselamatan dan Kesehatan Kerja diterapkan dalam aktivitas sehari-hari di lingkungan pembangkit. Setiap pekerjaan diawali dengan prosedur keselamatan yang jelas dan penggunaan alat pelindung diri yang sesuai standar. Hal ini menunjukkan bahwa K3 telah menjadi bagian dari budaya kerja yang dijunjung tinggi oleh PT PLN Nusantara Power.
Melalui kerja praktik di PT PLN Nusantara Power UP Muara Karang, mahasiswa tidak hanya memperoleh pengalaman teknis, tetapi juga pembelajaran mengenai tanggung jawab profesional dalam menjaga keandalan sistem energi. Dari ruang kuliah ke lingkungan industri, pengalaman ini menjadi langkah awal dalam memahami peran nyata Teknik Fisika di dunia kerja.
Kegiatan ini dihadiri oleh sekitar 25 peserta, yang terdiri dari alumni DTNTF, jajaran pengurus departemen, serta beberapa perwakilan mahasiswa. Pertemuan berlangsung dalam suasana hangat dan kolaboratif, dengan fokus utama pada pembahasan peluang kolaborasi riset, pemberdayaan alumni, serta penguatan kerja sama industri yang melibatkan alumni, departemen, dan mahasiswa.
Dari pihak alumni, kegiatan ini dihadiri oleh perwakilan pengurus keluarga alumni KATNTF, antara lain Rifqi Imanto, Chairil Linggabinangkit, Hafiq Wijanarko, serta rekan-rekan alumni lainnya. Sementara itu, dari pihak departemen hadir Ketua Departemen Prof. Faridah, Sekretaris Departemen Widya Rosita, Alexander Agung, Kusnanto, dan Rachmawan budiarto yang secara aktif berdiskusi dan bertukar gagasan dengan para alumni.
Dalam pertemuan ini, berbagai potensi kolaborasi dibahas secara terbuka, mulai dari pengembangan riset terapan berbasis kebutuhan industri, peran alumni dalam membuka jejaring kerja sama, hingga peluang keterlibatan mahasiswa dalam proyek riset dan industri. Sinergi ini diharapkan dapat memberikan dampak nyata, tidak hanya bagi pengembangan akademik DTNTF, tetapi juga bagi peningkatan kapasitas dan kontribusi alumni di dunia profesional.
Kegiatan ini menjadi langkah awal yang strategis dalam membangun ekosistem kolaboratif antara alumni–departemen–mahasiswa, sekaligus menegaskan komitmen DTNTF untuk terus berinovasi dan berkontribusi melalui jejaring yang solid dan berkelanjutan. Dokumentasi kegiatan ini akan dibagikan melalui website DTNTF dan media sosial Instagram DTNTF sebagai bagian dari upaya berbagi inspirasi dan informasi kepada khalayak yang lebih luas.
Berita Senin, 2 Februari 2026
Lomba mancing tersebut tidak hanya menjadi ajang kompetisi, tetapi juga wadah mempererat silaturahmi di lingkungan Fakultas Teknik UGM. Antusiasme peserta terlihat tinggi sejak awal hingga akhir kegiatan, disertai dengan sportivitas yang terjaga sepanjang perlombaan.
Pak Slamet yang keluar sebagai juara karena berhasil memancing ikan maskot menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Fakultas Teknik UGM serta seluruh panitia HPTT ke-80 atas penyelenggaraan kegiatan yang berjalan lancar, tertib, dan meriah. Menurut Pak Slamet, keberhasilan meraih juara pertama merupakan pengalaman yang membanggakan, namun nilai kebersamaan dan keakraban selama kegiatan menjadi momen yang paling berkesan.
Selain itu, lomba mancing ini juga dinilai memiliki nilai edukatif, seperti melatih kesabaran, fokus, dan konsistensi, nilai-nilai sederhana yang relevan baik dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam dunia teknik.
Diharapkan, kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan dan menjadi agenda rutin dalam peringatan HPTT Fakultas Teknik UGM. Selain berfungsi sebagai sarana penyegaran, kegiatan ini juga dinilai efektif dalam memperkuat rasa kekeluargaan di lingkungan Fakultas Teknik. Peringatan HPTT ke-80 ini menjadi momentum penting untuk mempererat kebersamaan serta menumbuhkan semangat kebanggaan terhadap Fakultas Teknik UGM.
Selamat HPTT ke-80 Fakultas Teknik UGM, jayalah selalu.