Ilmu Pengetahuan sebagai Instrumen Perlindungan Kehidupan dan Keberlanjutan Sosial
DIY dan Jawa Tengah merupakan wilayah yang akrab dengan berbagai risiko bencana—mulai dari gempa bumi, erupsi Merapi, hingga banjir dan longsor. Dalam kondisi seperti ini, kesiapsiagaan menjadi kunci. Infrastruktur saja tidak cukup; yang paling menentukan adalah bagaimana masyarakat memahami risiko dan tahu harus bertindak apa saat situasi darurat terjadi.Berangkat dari kebutuhan tersebut, DTNTF FT UGM mengadakan program sosialisasi dan pelatihan sistem peringatan dini kebencanaan untuk instansi pendidikan dan komunitas di wilayah tersebut. Tujuannya bukan hanya mengenalkan teknologi, tetapi membangun kebiasaan dan budaya kesiapsiagaan yang bisa diterapkan sehari-hari.
Program ini berlangsung dari April hingga November 2025 dengan dukungan hibah pengabdian DTNTF. Kegiatannya dirancang praktis dan aplikatif, mencakup pelatihan teknis, simulasi evakuasi, penggunaan emergency kit, hingga latihan komunikasi darurat. Pendekatan ini membuat peserta tidak hanya memahami konsep, tetapi juga siap bertindak ketika dibutuhkan.
Gambar 1. Penyampaian materi yang disampaikan oleh Thomas Oka Pratama, S.T., M.Eng.
Materi yang diberikan mencakup pemahaman jenis-jenis bencana lokal, cara kerja sistem peringatan dini, hingga langkah-langkah penyelamatan diri di rumah dan sekolah. Pelatihan juga dilengkapi dengan simulasi langsung, sehingga peserta dapat merasakan situasi darurat secara lebih nyata dan memahami peran masing-masing dalam proses evakuasi.
Kegiatan ini juga menjadi ruang pertemuan berbagai elemen masyarakat—mulai dari sekolah, relawan, Pramuka, hingga komunitas komunikasi seperti ORARI. Kolaborasi ini penting, karena sistem peringatan dini tidak akan efektif tanpa koordinasi yang baik antar pihak. Di sinilah kekuatan komunitas mulai terbentuk: bukan hanya sebagai penerima informasi, tetapi sebagai bagian aktif dari sistem itu sendiri. Dampaknya terlihat dari meningkatnya kepercayaan diri peserta dalam menghadapi situasi darurat. Mereka tidak hanya tahu apa yang harus dilakukan, tetapi juga merasa lebih siap secara mental dan praktis. Selain itu, sekolah dan komunitas kini memiliki panduan atau SOP yang bisa digunakan dan dikembangkan sesuai kebutuhan lokal.

Foto 2: Dokumentasi bersama elemen komunitas
Jika dilihat dalam konteks yang lebih luas, program ini juga berkontribusi pada berbagai tujuan pembangunan berkelanjutan. Upaya meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat secara langsung mendukung kesehatan dan keselamatan (SDG 3), sekaligus memperkuat pendidikan berbasis praktik dan pengalaman (SDG 4).
Penguatan kapasitas komunitas dalam menghadapi bencana juga menjadi bagian penting dari pembangunan kota dan permukiman yang tangguh (SDG 11), serta sejalan dengan upaya adaptasi terhadap perubahan iklim dan risiko bencana (SDG 13). Di saat yang sama, keterlibatan berbagai pihak menunjukkan pentingnya kemitraan dalam membangun sistem yang efektif dan berkelanjutan (SDG 17).
Ke depan, program ini memiliki potensi untuk diperluas ke wilayah lain yang memiliki karakteristik risiko serupa. Dengan modul pelatihan dan pendekatan yang sudah teruji, kegiatan ini dapat menjadi model pendidikan kebencanaan berbasis komunitas yang lebih luas. Pada akhirnya, program ini menegaskan bahwa kesiapsiagaan bukan hanya soal alat atau teknologi, tetapi soal manusia—bagaimana mereka memahami risiko, bekerja sama, dan saling melindungi ketika bencana datang.


