Ilmu Pengetahuan sebagai Instrumen Perlindungan Kemanusiaan dan Keamanan Publik
Penggunaan teknologi sinar-X di ruang publik, termasuk di lembaga pemasyarakatan, menjadi bagian penting dalam menjaga keamanan. Namun, di balik fungsinya yang vital, ada risiko yang tidak boleh diabaikan—paparan radiasi terhadap operator yang bekerja setiap hari di dekat alat tersebut. Karena itu, keselamatan radiasi bukan sekadar aspek teknis, tetapi menyangkut perlindungan kesehatan dan kualitas kerja manusia.
Berangkat dari kebutuhan ini, DTNTF FT UGM mengembangkan purwarupa perisai radiasi untuk pesawat sinar-X mobile yang digunakan di Lapas Cebongan, Sleman. Program ini tidak hanya fokus pada inovasi teknologi, tetapi juga memastikan bahwa solusi yang dihasilkan benar-benar menjawab kondisi lapangan dan kebutuhan operator.
Kegiatan ini berlangsung sepanjang April hingga November 2025 dengan dukungan hibah pengabdian DTNTF. Prosesnya dimulai dari survei langsung, diskusi dengan pihak lapas dan operator, hingga pemetaan potensi paparan radiasi. Pendekatan ini penting agar desain yang dihasilkan tidak hanya aman secara teknis, tetapi juga nyaman dan praktis digunakan.

Gambar 1. Pesawat sinar-X mobile
Dari hasil analisis tersebut, tim merancang perisai berbasis material timbal dengan struktur yang ergonomis dan mudah dioperasikan. Purwarupa ini kemudian diwujudkan menggunakan kombinasi material seperti timbal, PVC, dan rangka aluminium. Hasilnya adalah sistem proteksi yang tidak hanya efektif dalam menahan radiasi, tetapi juga mendukung kelancaran operasional pemeriksaan.
Selama proses implementasi, keterlibatan langsung operator menjadi kunci. Mereka tidak hanya menjadi pengguna, tetapi juga bagian dari proses pengembangan. Hal ini membuat solusi yang dihasilkan lebih relevan dan mudah diterapkan dalam keseharian kerja.Dampaknya cukup jelas. Operator kini memiliki perlindungan tambahan yang lebih terukur, sehingga risiko paparan radiasi dapat diminimalkan. Di sisi lain, institusi lapas juga mendapatkan peningkatan standar keselamatan tanpa mengganggu fungsi utama sistem keamanan. Lebih jauh lagi, program ini menunjukkan bahwa peningkatan keamanan tidak harus mengorbankan kesehatan pekerja.

Gambar 2. Foto bersama dengan pegawai Lapas Cebongan
Jika dilihat dalam kerangka yang lebih luas, program ini juga berkontribusi pada berbagai tujuan pembangunan berkelanjutan. Upaya melindungi kesehatan operator secara langsung berkaitan dengan kesejahteraan (SDG 3), sementara keterlibatan mahasiswa dan proses pembelajaran lapangan memperkuat kualitas pendidikan (SDG 4).
Inovasi dalam desain perisai radiasi mencerminkan penguatan aspek teknologi dan infrastruktur (SDG 9), sekaligus mendukung terciptanya ruang publik yang lebih aman (SDG 11). Selain itu, kolaborasi antara perguruan tinggi dan lembaga pemasyarakatan menunjukkan pentingnya kemitraan lintas sektor dalam menghadirkan solusi nyata (SDG 17). Ke depan, program ini memiliki potensi untuk diperluas ke lembaga pemasyarakatan lain yang menggunakan teknologi serupa. Dengan pengembangan lebih lanjut, purwarupa ini bisa menjadi standar baru dalam sistem proteksi radiasi di ruang publik. Pada akhirnya, program ini menegaskan bahwa teknologi yang baik bukan hanya soal fungsi, tetapi juga soal bagaimana ia melindungi manusia. Ketika ilmu pengetahuan diterjemahkan dengan tepat, dampaknya tidak hanya terasa di tingkat sistem, tetapi juga langsung pada keselamatan dan kualitas hidup individu yang menggunakannya.


