Ketangguhan ekonomi masyarakat menjadi kunci penting dalam pembangunan yang berkelanjutan dan inklusif. Namun, di tingkat desa, banyak pelaku usaha tani masih menghadapi tantangan klasik: hasil pertanian dijual dalam bentuk mentah dengan nilai tambah yang rendah. Padahal, dengan pengolahan yang tepat, komoditas tersebut dapat memberikan manfaat ekonomi yang jauh lebih besar.
Kabupaten Sleman memiliki potensi besar di sektor pertanian, termasuk tanaman penghasil minyak atsiri seperti serai wangi. Permintaan pasar yang stabil dan penggunaannya yang luas—mulai dari industri kosmetik hingga kesehatan—membuat komoditas ini sangat menjanjikan. Sayangnya, sebagian besar masih belum diolah secara optimal.
Melihat peluang tersebut, DTNTF FT UGM menghadirkan program pengabdian kepada masyarakat yang berfokus pada pemanfaatan teknologi tepat guna untuk penyulingan minyak atsiri. Program ini tidak hanya berupa pelatihan teknis, tetapi juga upaya mendorong kemandirian ekonomi masyarakat berbasis ilmu pengetahuan.
Kegiatan berlangsung dari April hingga November 2025 dengan dukungan hibah pengabdian DTNTF. Pelaksanaan melibatkan kolaborasi antara kampus, pemerintah daerah, dan masyarakat, termasuk Dinas Pertanian serta Dinas Koperasi dan UKM Kabupaten Sleman. Pendekatan ini memastikan bahwa program tidak berhenti di level pelatihan, tetapi terhubung langsung dengan kebutuhan dan arah pembangunan daerah.
Fokus utama kegiatan adalah penggunaan alat penyulingan minyak atsiri skala kecil yang sederhana dan mudah dioperasikan. Teknologi ini dirancang agar sesuai dengan kondisi masyarakat, sehingga dapat langsung diterapkan tanpa membutuhkan investasi besar.
Gambar 1. Ir. Fadli Kasim, ST, M.Sc., IPM, ASEAN Eng. sedang menjelaskan hasil penyulingan minyak atsiri
Pelatihan puncak dilaksanakan pada 24 September 2025 di Pendopo Rumah Dinas Bupati Sleman, diikuti sekitar 120 peserta dari berbagai kelompok—petani, UMKM, koperasi, hingga penyuluh lapangan. Peserta tidak hanya menerima materi, tetapi juga terlibat langsung dalam proses penyulingan, mulai dari persiapan bahan hingga menghasilkan minyak atsiri siap pakai.
Pendekatan praktik langsung ini menjadi kunci. Masyarakat tidak hanya memahami konsep, tetapi juga memperoleh keterampilan yang bisa langsung diterapkan. Dari sini, terbuka peluang pengembangan usaha berbasis minyak atsiri, termasuk produk turunan dengan nilai jual lebih tinggi.
Program ini juga sejalan dengan berbagai tujuan pembangunan berkelanjutan, seperti pengentasan kemiskinan, peningkatan kualitas pendidikan, pertumbuhan ekonomi, serta penguatan inovasi dan kemitraan. Lebih dari itu, program ini menunjukkan bagaimana ilmu pengetahuan dapat berperan nyata dalam menjawab kebutuhan masyarakat.
Dampaknya mulai terlihat: masyarakat memiliki keterampilan baru, peluang usaha terbuka, dan pemerintah daerah mendapatkan model penguatan ekonomi lokal yang dapat dikembangkan lebih lanjut.
Ke depan, program ini diharapkan tidak berhenti di Sleman. Dengan pendampingan lanjutan dan penguatan jejaring, model ini berpotensi direplikasi di wilayah lain. Pada akhirnya, teknologi sederhana yang tepat guna dapat menjadi pintu masuk bagi transformasi ekonomi masyarakat yang lebih mandiri dan berkelanjutan.

Gambar 2. Foto bersama Pendopo Rumah Dinas Bupati Sleman


