Ilmu Pengetahuan sebagai Fondasi Transisi Keberlanjutan Layanan Kesehatan
Rumah sakit adalah tempat untuk menjaga kesehatan, tetapi di saat yang sama juga menjadi salah satu pengguna energi terbesar karena operasionalnya berjalan tanpa henti. Di sinilah pentingnya konsep green hospital—bukan sekadar efisiensi biaya, tetapi juga bagian dari tanggung jawab terhadap lingkungan dan keberlanjutan layanan kesehatan.
Melihat kebutuhan tersebut, DTNTF FT UGM menghadirkan program pengabdian berupa training audit energi di RSU Islam Klaten. Program ini dirancang untuk membantu rumah sakit memahami pola konsumsi energinya, menemukan potensi efisiensi, dan mulai membangun sistem pengelolaan energi yang lebih berkelanjutan.
Kegiatan ini didukung oleh hibah pengabdian DTNTF tahun 2025 dan dilaksanakan secara terstruktur, mulai dari pelatihan konsep hingga praktik langsung di lapangan. Pendekatannya tidak berhenti pada teori—peserta diajak mengamati sistem energi rumah sakit secara nyata, mulai dari pencahayaan, sistem pendingin (HVAC), hingga penggunaan peralatan medis dan utilitas lainnya.
Dalam prosesnya, tenaga rumah sakit tidak hanya belajar cara mengukur konsumsi energi, tetapi juga memahami bagaimana keputusan operasional sehari-hari memengaruhi efisiensi secara keseluruhan. Dari sini, audit energi tidak lagi dipandang sebagai kegiatan teknis semata, tetapi sebagai bagian dari pengelolaan institusi yang lebih cerdas dan berkelanjutan.

Gambar 1. Pemaparan materi yang disampaikan oleh Ir. Ari Bimo Prakoso, S.T., Ph.D., IPM.
Program ini juga menjadi ruang kolaborasi yang hidup antara kampus dan rumah sakit. Mahasiswa mendapatkan pengalaman belajar langsung di lapangan, sementara tenaga kesehatan memperoleh penguatan kapasitas yang bisa langsung diterapkan. Pertukaran pengetahuan terjadi secara dua arah—praktis sekaligus kontekstual.
Hasilnya mulai terlihat. RSU Islam Klaten kini memiliki gambaran yang lebih jelas tentang konsumsi energinya, termasuk area yang masih bisa dioptimalkan. Rekomendasi yang dihasilkan dapat menjadi dasar bagi kebijakan internal ke depan, baik untuk efisiensi operasional maupun pengurangan dampak lingkungan.
Dalam konteks yang lebih luas, program ini juga sejalan dengan berbagai tujuan pembangunan berkelanjutan. Upaya menciptakan lingkungan rumah sakit yang lebih sehat dan efisien mendukung kesejahteraan masyarakat (SDG 3). Proses pelatihan dan pembelajaran berbasis praktik memperkuat kualitas pendidikan (SDG 4), sementara peningkatan efisiensi energi berkontribusi pada penggunaan energi yang lebih bersih dan terjangkau (SDG 7).

Gambar 2. Dokumentasi foto bersama
Selain itu, program ini juga mendorong inovasi dalam pengelolaan infrastruktur layanan kesehatan (SDG 9), memperkuat peran rumah sakit dalam membangun kota yang lebih berkelanjutan (SDG 11), serta menunjukkan pentingnya kolaborasi antara perguruan tinggi dan institusi layanan publik (SDG 17). Semua ini menunjukkan bahwa langkah kecil seperti audit energi dapat menjadi bagian dari perubahan yang lebih besar.
Ke depan, program ini tidak berhenti di satu lokasi. Dengan pendekatan yang sudah teruji, model training audit energi ini berpotensi diterapkan di rumah sakit lain. Harapannya, semakin banyak institusi layanan kesehatan yang mampu mengelola energinya secara lebih efisien—tidak hanya untuk menekan biaya, tetapi juga untuk menjaga keberlanjutan lingkungan dan kualitas layanan bagi masyarakat.
Pada akhirnya, program ini menegaskan satu hal sederhana: ilmu pengetahuan akan paling bermakna ketika hadir dalam praktik, menjawab kebutuhan nyata, dan membawa perubahan yang bisa dirasakan langsung.


