Keselamatan radiasi bukan sekadar persoalan teknis di balik alat medis. Keselamatan radiasi juga menyentuh [...]
SDG 11: Kota dan Pemukiman yang Berkelanjutan
Pelatihan ini diikuti oleh tenaga kependidikan, laboran, mahasiswa, serta staf yang beraktivitas di lingkungan Departemen Teknik Nuklir dan Teknik Fisika. Materi pelatihan disampaikan oleh instruktur dari internal departemen. Kegiatan dimulai dengan sesi pembukaan dan dilanjutkan dengan pretest untuk mengukur tingkat pemahaman awal peserta mengenai penanganan kebakaran dan penggunaan APAR.
Dalam sesi materi, peserta diberikan pemahaman mengenai dasar-dasar kebakaran, termasuk penyebab umum kebakaran di lingkungan kampus. Beberapa faktor yang dapat memicu kebakaran antara lain korsleting listrik akibat instalasi yang tidak sesuai standar, penyimpanan bahan kimia yang tidak aman di laboratorium, penggunaan peralatan listrik berdaya tinggi, serta kelalaian manusia seperti penggunaan alat pemanas tanpa pengawasan. Selain itu, peserta juga diperkenalkan dengan klasifikasi kebakaran, yaitu kelas A, B, C, D, dan K, yang masing-masing memiliki karakteristik bahan bakar yang berbeda.
Materi berikutnya membahas berbagai jenis APAR yang umum digunakan, seperti APAR jenis air (water), serbuk kimia kering (dry chemical powder), karbon dioksida (COâ‚‚), busa (foam/AFFF), serta gas halon. Peserta dijelaskan mengenai fungsi dan penggunaan masing-masing jenis APAR agar dapat memilih alat pemadam yang tepat sesuai dengan jenis kebakaran yang terjadi.
Selain penyampaian teori, pelatihan ini juga menekankan prosedur penggunaan APAR yang benar. Peserta diajarkan langkah-langkah dasar dalam menggunakan APAR, yaitu menarik pin pengaman, mengarahkan selang ke sumber api, menekan tuas pemicu, serta menggerakkan semprotan secara perlahan hingga api dapat dipadamkan. Pengetahuan ini sangat penting agar tindakan pemadaman dapat dilakukan secara cepat, tepat, dan aman.
Kegiatan pelatihan ditutup dengan sesi post-test untuk mengevaluasi pemahaman peserta setelah mengikuti pelatihan. Melalui kegiatan ini diharapkan seluruh peserta memiliki pengetahuan dan keterampilan dasar dalam menangani kebakaran sejak tahap awal, sehingga dapat meminimalkan potensi kerugian materi maupun risiko keselamatan.
Pelatihan APAR ini menjadi salah satu bentuk komitmen Departemen Teknik Nuklir dan Teknik Fisika Fakultas Teknik UGM dalam membangun budaya keselamatan kerja di lingkungan akademik. Dengan meningkatnya kesadaran dan kesiapan seluruh civitas akademika, diharapkan lingkungan kampus dapat menjadi tempat belajar dan bekerja yang lebih aman dan tanggap terhadap keadaan darurat.
“Create Innovating Renewable Energy and Empowering Youth to Unlock the […]
Pelatihan yang berlangsung dari pukul 09.00 hingga 11.30 WIB ini mencakup materi teori dan praktik, mulai dari teori dasar kebakaran, jenis dan fungsi APAR, teknik penggunaan APAR, hingga simulasi pemadaman api. Dengan demikian, peserta diharapkan mampu mengaplikasikan pengetahuan tersebut dalam situasi darurat guna meminimalkan risiko kebakaran.
Sebanyak 35 peserta mengikuti kegiatan ini, terdiri dari mahasiswa, tenaga kependidikan, serta tenaga kontrak. Pelatihan dipandu oleh Johan Purwanto, S.Sos., Koordinator Urusan Aset, Sarana Prasarana, SHE, dan IT, yang bertindak sebagai instruktur utama.
Selama sesi praktik, peserta diberikan kesempatan untuk langsung menggunakan APAR dalam skenario kebakaran terkendali. Mereka tampak antusias mencoba teknik pemadaman api yang diajarkan, mulai dari menentukan jenis APAR yang sesuai hingga cara mengarahkan semprotan untuk memadamkan api secara efektif.
Menurut Johan Purwanto, keterampilan dasar dalam menggunakan APAR sangat penting dimiliki oleh setiap individu di lingkungan akademik maupun industri.
“Pengetahuan ini bukan hanya teori semata, tetapi benar-benar dapat menyelamatkan nyawa serta mencegah kerugian akibat kebakaran. Kami berharap peserta dapat menyebarkan ilmu ini ke rekan-rekan mereka,” ujar Johan.
Berdasarkan evaluasi yang dilakukan di akhir pelatihan, peserta menunjukkan pemahaman yang baik terhadap materi yang diberikan. Mereka dinilai telah mampu menerapkan teknik pemadaman api dengan benar.
Ketua Departemen Teknik Nuklir dan Teknik Fisika, Dr. Ir. Alexander Agung, S.T., M.Sc., IPU., menyampaikan apresiasinya terhadap kegiatan ini dan berharap pelatihan serupa dapat terus dilakukan secara rutin.
“Keselamatan adalah prioritas utama. Kegiatan ini menjadi langkah awal dalam membangun budaya sadar kebakaran di lingkungan akademik. Kami berencana untuk memperluas cakupan pelatihan ini di masa mendatang, tidak hanya bagi mahasiswa tetapi juga bagi seluruh civitas akademika UGM,” ungkapnya.
Pelatihan ini menjadi salah satu bentuk komitmen Universitas Gadjah Mada dalam meningkatkan kesiapsiagaan terhadap bencana kebakaran serta membekali mahasiswa dan tenaga kependidikan dengan keterampilan praktis yang bermanfaat di berbagai situasi.
Pada Kamis, 17 Oktober 2024 di Hutan Pendidikan Wanagama, tim peneliti dari Universitas Gadjah Mada […]
Delegasi dari Fakultas Teknik (FT) dan Departemen Teknik Nuklir dan Teknik Fisika (DTNTF) Universitas […]
Chiyoda, Jepang – Pada hari Rabu, 10 Juli 2024, delegasi dari DTNTF (kelompok riset Integrated Smart […]


